Skip navigation

15 Juli 2002

Batman pun Menonton Wayang Kulit

SUASANA tegang saat Labah-Labah Merah menghardik Thor, superhero dari Amerika. “Saudara, pergi dan angkat kaki dari negeri ini!” teriaknya, “Kami tidak menghendaki jagoan macam-mu, yang bisanya cuma merusak rencana dengan pentunganmu itu.”

Batman dan Hawk pun ikut merinding mendengar suara Labah-Labah Merah yang berwibawa itu. Sebab, siapa tak kenal Thor? Seperti namanya, yang diambil dari nama salah satu dewa Viking, Thor punya penampilan gagah. Rambutnya gondrong. Dia mengenakan penutup kepala seperti orang Galia dan jubah melambai-lambai. Tapi kehebatannya terletak pada senjata martilnya yang dahsyat-yang bila dipusingkan menimbulkan putaran angin menderu bak topan tornado, mengempaskan apa saja di sekitarnya.

Thor, superhero senior Amerika, tersinggung berat. Perkelahian tak terelakkan.

Martil Thor menghantam sana-sini, tanpa sedetik pun memberikan kesempatan kepada musuhnya. Tapi Labah-Labah Merah, jagoan asal Bandung itu, tampil memukau.

Ia dapat berkelit cekatan. Tanpa harus menyemprotkan jaring-jaringnya, berkali-kali dia sukses mengirim bogem mentah yang menyungsepkan Thor. Sampai akhirnya martil Thor lepas dan dia menyerah meminta ampun, “Cukup, cukup, sekarang aku yakin kau benar-benar hebat.”

Dalam serial fantasi Labah-Labah Merah berjudul Brutal itu, Indonesia menjadi pemberitaan media seluruh dunia. Tanpa dikomandoi, superhero sejagat berdatangan ke sebuah desa nun di Jawa Barat. Mereka bahu-membahu berusaha membinasakan makhluk aneh berwujud tangan raksasa dan monster air yang muncul tiba-tiba.

Dari Amerika datang rombongan lengkap: Batman, Superman, Flash, The Creeper, Hawkman, Aquaman, Green Lantern, Green Arrow, X-Man, Captain America, Goliath, dan Fantastic Four (Reed Richard, Benjamin J.G., Johny Storm, Ice Man).

Tak ketinggalan pula superhero cewek seperti Wonder Woman, Marvel Girl, Bat Girl, Hawk Girl, dan Super-Girl.

Dari Yogyakarta hadir Godam dan Gundala.

Dari Bumi Parahyangan sendiri muncul Nusantara, Macan Kumbang, Dewi Bulan, dan Labah-Labah Mirah versi perempuan Labah-Labah Merah).

Bahkan ada jagoan masa lalu Indonesia yang ikut bergabung: Putri Bintang, ciptaan komikus John Lo pada 1950-an.

Pada mulanya, sebagai superhero paling senior, Batman bisa menjadi koordinator operasi. Tapi tampaknya dia pakewuh karena tak tahu medan. Maka Labah-Labah Merah, sang tuan rumah, mengambil alih kepemimpinan. Mengatur 30 jagoan memang sulit. Banyak dari mereka yang memiliki ego besar, merasa diri paling super. Tapi tak segan Labah-Labah Merah memperingatkan mereka. Dan kewibawaannya pun diakui.

“Kita hanya tamu di sini. Labah-Labah Merah pasti lebih tahu keadaan di negeri ini,” kata Hawk.

Dibaca sekarang ini, anekdot Labah-Labah Merah versus Thor kedengaran menggelikan dan tidak masuk akal. Tapi, pada 1970-an, anak-anak Indonesia menyukainya dan membuat mereka bangga oleh pesan nasionalisme yang terselip di situ. Meski merupakan adaptasi dari komik-komik Amerika, superhero Indonesia juga sangat dihormati.

Lihatlah ketika Labah-Labah Mirah hilang diculik. Semua superhero sejagat bersimpati, menenangkan Labah-Labah Merah, yang gundah karena pasangannya raib.

Kiat menghadirkan superhero dunia juga ditempuh Cancer, pencipta tokoh lokal Kawa Hijau. Dalam serial berjudul Dendam, Cancer menghadirkan Goliath, Vision, Thor, Avangers, dan Panther.

Serial ini mengisahkan bagaimana seorang penjahat bernama Leon Tanker menciptakan Kawa Hijau palsu. Nah, celakanya, para superhero lain menganggap Kawa Hijau asli adalah yang palsu.

Terjadi perkelahian hebat. “Kawa Hijau selalu menang. Cancer ingin
membuktikan bahwa Kawa Hijau lebih sakti dibanding yang lain,” kata Iwan Gunawan, dosen Institut Kesenian Jakarta dan anggota Pengumpul Komik Indonesia Pengki).

Gagasan dasar mempertemukan para superhero tentu saja dari komik Marvel. Marvel, misalnya, pernah mengeluarkan edisi The Trouble, yang berkisah bagaimana jago-jago Amerika bersatu. Di tangan komikus Indonesia, gagasan itu diramu sedemikian rupa untuk membuat pamor superhero kita selalu membanggakan. Ini bisa disebut sebagai satu segi keunikan komik fantasi kita.

Hasmi, pencipta Gundala sang Putra Petir, pernah pula mendatangkan superhero dunia ke Yogyakarta. Dalam salah satu edisi, dia menceritakan Clark Kent dan Bruce Wayne menjadi turis.

“Keduanya tertarik promosi Yogya sebagai kota wisata,” kata Hasmi mengenang. Mereka datang sendiri-sendiri, mengunjungi Pantai Parangtritis, menonton wayang kulit, menikmati ketoprak, dan jalan-jalan di Malioboro.

Tiba-tiba ada makhluk aneh muncul. Mau tidak mau, walau berada di negeri asing, Clark Kent mengubah diri menjadi Superman. Dan Bruce Wayne menjadi Batman. Mereka pun takzim terhadap kehebatan Gundala serta Godam, rekan Gundala dari kota yang sama. Rileks saja para komikus kita menghadirkan superhero-superhero asing itu.

Mereka bahkan bisa santai menyandingkan superhero asli bersama epigonnya. Superman bersama Godam, misalnya. Ada saja akal untuk mengupayakan para jagoan mancanegara itu datang ke Indonesia. Contohnya, ketika Aquaman ditanyai Labah-Labah Merah bagaimana ia bisa tahu ada makhluk aneh di Indonesia, Aquaman menjawab enteng, “Ya, saya tahu, ikan mujair di sungai sini [maksudnya sungai di Indonesia] memberi tahu ikan-ikan lainnya. Akhirnya sampai ke telinga saya di Samudra Atlantik.” Meski ada kesan apologetik, para komikus kita juga kreatif dalam mempromosikan kebanggaan terhadap Indonesia.

Di mata para superhero lokal, Indonesia bukan negara sembarangan. Bacalah ketika jagoan sedunia ini menemukan pesawat angkasa pengendali makhluk pemusnah dan mereka lalu berselisih. Batman, Thor, Goliath, dan X-Man bersikeras membawa pesawat itu ke Amerika untuk diteliti di sana. “Di negeri kami banyak ahli dan profesor yang pintar,” kata X-Man. Tapi dengan tegas Labah-Labah Merah menolak.

“Di negeri kami pun tidak kurang orang-orang pintar. Biarlah pesawat ini tetap berada di Indonesia saja,” katanya. Godam, Gundala, dan Kapten Nusantara pun langsung merapat membela rekan senegerinya. Labah-Labah Merah punya alasan kuat. “Melihat cara kerjanya, aku jadi ingat cara kerja pesawat RB-X,” gumam Labah-Labah Merah dalam hati. RB-X adalah mesin teleportasi, mesin pemindah jasad yang sangup memproses jasad padat menjadi atom dalam bentuk gumpalan asap.

Seperti dikisahkan dalam Manusia Kadal, serial lain komik ciptaan Kus Br. itu, RB-X dibuat oleh seorang profesor Indonesia bernama Rujito. Labah-Labah Merah dan superhero kita yang lainnya bahkan tidak takut ketika Supeman, superhero paling disegani, mencoba membela Batman. Mereka bersatu siap menjadi martir. Istilah Pangeran Samber Nyowo, mereka telah seia sekata: tiji tibeh mati siji mati kabeh)-“mati satu mati semua”. Sangat terasa superhero Indonesia kompak satu
sama lain.

“Watak khas superhero kita terletak pada semangat gotong-royong yang tinggi,” kata Saut Irianto Manik, Ketua Pengki.

Para komikus Yogyakarta paling menonjol dalam soal ini. Misalnya dalam serial Gabungan Anti Superhero karya Wid N.S., pencipta Godam. Di situ dikisahkan bagaimana para penjahat Yogyakarta menggalang kekuatan untuk melawan para superhero setempat.

Konspirasi itu memicu kerja sama Godam, Gundala, Maza, Jin Kartubi, Aquanus, Sembrani, Tira, Merpati, dan Sun Go Kong. Saling meminjam tokoh antarkomikus adalah hal lazim kala itu-mungkin karena urusan hak cipta belum seruwet sekarang ini. Beberapa komikus yang enggak ngetop bahkan sering meminjam tokoh komik kesohor untuk mendongkrak popularitas komiknya.

Terkadang saran meminjam tokoh itu datangnya dari penerbit. Jika sebuah komik baru belum memadai, baik secara gambar maupun cerita, penerbit akan memberi tahu sang komikus untuk memasukkan tokoh yang sudah dikenal seperti Godam atau Gundala. Semua urusan pinjam-meminjam itu gratis, tidak ada pungutan biaya sepeser pun.

Bahkan si peminjam tidak usah minta izin komikus yang tokohnya dipinjam. Ucapan terima kasih cukup diselipkan sebagai “salam tempel” dalam komik saja.

Misalnya, saat meminjam tokoh Gundala dalam edisi Dendam, Cancer cukup menorehkan kalimat di komiknya, “Hasmi, apa kabar?”

Sementara itu, Hasmi, dalam edisi lain, akan menjawab santai, “Apa kabar, Cancer? Lagi bikin apa?”

“Saya tahu persis Gundala sering dipinjam oleh komikus Bandung. Dan itu biasa saja. Kita merasa senasib,” kata Hasmi, pencipta Gundala, “Ketika ada teman minta untuk mengatrol namanya, kita akan rela saja. Soal hak cipta sama sekali tak pernah tertanam dalam pikiran kami.” Wid N.S., pencipta Godam, sependapat. “Saya malah sangat tersanjung kalau tokoh saya dipinjam,” katanya. Itulah gotong-royong ala superhero kita.

Sistem musyawarah tecermin. Tak hanya di antara mereka sendiri, tapi juga antara superhero dan aparat keamanan. Dalam banyak serial, jagoan kita selalu ditampilkan berkoordinasi dan mengatur strategi bersama para reserse polisi atau bahkan bahu-membahu dengan pasukan artileri militer saat melawan raksasa aneh-aneh. Superhero kita adalah sebuah dunia manusia-manusia super yang bersifat kekeluargaan, beriman (bila menghadapi musuhnya, Labah-Labah Merah sering menggumam, “Ya Allah, beri hamba kekuatan”), sekaligus memiliki sikap percaya kepada negara.

Mereka bukan oposan atau penganut filsafat anarkis. Bagaimanapun, seperti di Barat sendiri, para superhero lokal 1970-an itu masih tampak “terlalu manis”-terlalu hitam-putih, tak cocok semangatnya dalam dunia kini yang batas antara baik dan buruk telah lebur ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, di Amerika, muncul komik superhero generasi baru. Mereka berusaha kritis kepada jagoan-jagoan “old crack” jebolan Marvel seperti Superman, Batman, dan Flash. Dalam edisi Kingdom Come April-Juli 2002 yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ditampilkan pertempuran global para superhero mazhab lama, yang dipimpin Superman dan Wonder Woman, melawan superhero baru yang dipimpin Magog. Komik ini memang diterbitkan oleh M&C Comics, sekelompok komikus yang menentang dominasi dan kemapanan Marvel.

Pada 1990-an, di Bandung, beberapa komikus muda kita juga melahirkan superhero baru meski dalam cetakan yang terbatas: Kapten Bandung.

Tapi tokoh ini terasa agak ahistoris, seolah tak mengenal para superhero lokal seniornya.

Imajinasi kita barangkali akan lebih seru jika Kapten Bandung ditampilkan bersama Godam, Gundala, dan kawan segenerasinya yang dulu diterbitkan oleh Penerbit UP Prasidha dan Sastra Kumala. Entah sekadar bekerja sama atau mengkritik mereka.

Seno Joko Suyono,
Dewi Rina Cahyani

Copyright 2011 TEMPOinteraktif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: